Kebudayaan sebagai tradisi, kepercayaan, perilaku dan benda-benda yang dipergunakan masyarakat. Kebudayaan masyarakat adalah apa yang memisahkan cara hidup manusia sejak dua orang berjalan pada permukaan bumi. Hal-hal beraneka ragam yang berdampak pada cara hidup manusia seperti kepercayaan, pengalaman (pengetahuan) umum yang diturunkan atau pengalaman religius, kondisi dan situasi lokal. Setiap masyarakat akan dibentuk sesuai dengan bagaimana mereka memandang dunia dan dirinya sendiri.
Kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, di dalamnya terdapatilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat manusia sebagai anggota masyarakat. Kerangka ini terdiri atas, pertama sistem budaya (ide,gagasan), sistem sosial (aktivitas organisasi), dan sistem kebendaan (kebudayaan fisik).
Sebagai sebuah negara besar dengan 17.548 pulau, Indonesia dikenal dengan kekayaan budayanya. Hal ini tidak lepas dari banyaknya suku yang bermukim di Indonesia, yang jumlahnya lebih dari 250 suku. Selain itu, fakta Indonesia sebagai negara kepulauan juga turut memberikan pengaruh mengapa kebudayaan antar daerah bisa beragam.
Salah satu suku yang terbesar di Indonesia adalah Suku Jawa. Dilihat dari demografinya, suku ini mendiami wilayah tengah dan timur Pulau Jawa. Sebagai sebuah suku yang besar, tentu saja Suku Jawa juga memiliki kebudayaan yang besar, digunakan turun-temurun, dan masih ditemukan hingga sekarang.
Budaya Jawa adalah budaya yang berasal dari Jawa dan dianut oleh masyarakat Jawa khususnya di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Budaya Jawa secara garis besar dapat dibagi menjadi 3 yaitu budaya Banyumasan, budaya Jawa Tengah-DIY, dan budaya Jawa Timur. Budaya Jawa mengutamakan keseimbangan, keselarasan dan keserasian dalam kehidupan sehari-hari. Budaya Jawa menjunjung tinggi kesopanan dan kesederhanaan. Budaya Jawa selain terdapat di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur terdapat juga di daerah perantauan orang Jawa yaitu di Jakarta, Sumatra, dan Suriname. Bahkan budaya Jawa termasuk salah satu budaya di Indonesia yang paling banyak diminati di luar negeri. Beberapa budaya Jawa yang diminati di luar negeri adalah Wayang kulit, Keris, Batik, Kebaya, dan Gamelan. Di Malaysia dan Filipina dikenal istilah keris karena pengaruh Majapahit.[1] LSM Kampung Halaman dari Yogyakarta yang menggunakan wayang remaja adalah LSM Asia pertama yang menerima penghargaan seni dari Amerika Serikat tahun 2011.[2][3] Gamelan Jawa menjadi pelajaran wajib di AS, Singapura, dan Selandia Baru.[4][5] Gamelan Jawa rutin digelar di AS dan Eropa atas permintaan warga AS dan Eropa.[6] Sastra Jawa Negarakretagama menjadi satu satunya karya sastra Indonesia yang diakui UNESCO sebagai Memori Dunia.[7] Menurut Guru Besar Arkeologi Asia TenggaraUniversitas Nasional Singapura John N. Miksic jangkauan kekuasaan Majapahit meliputi Sumatra dan Singapura, bahkan Thailand yang dibuktikan dengan pengaruh kebudayaan, corak bangunan, candi, patung, dan seni.[8] Bahkan banyak negara di dunia terutama Amerika dan Eropa menyebut Jawa identik kopi.[9][10][11][12][13][14][15][16][17] Budaya Jawa termasuk unik karena membagi tingkat bahasa Jawa menjadi beberapa tingkat yaitu Ngoko, Madya, dan Krama. Ada yang berpendapat budaya Jawa identik feodal dan sinkretik. Pendapat itu kurang tepat karena budaya feodal ada di semua negara termasuk Eropa. Budaya Jawa menghargai semua agama dan pluralitas sehingga dinilai sinkretik oleh budaya tertentu yang hanya mengakui satu agama tertentu dan sektarian.
Suku Jawa memiliki kebudayaan yang menarik sekali untuk dikunjungi. Dari kebudayaan yang ada semua mungkin sudah banyak orang yang mengetahuinya mengingat Suku Jawa merupakan salah satu Suku terbesar di Indonesia. Adapun kebudayaan suku jawa itu sendiri adalah sebagai berikut:
1. Wayang Kulit
Wayang Kulit merupakan salah satu kebudayaan suku jawa yang dipercaya telah dikembangkan oleh wali Songo. Wali Songo merupakan tokoh-tokoh yang menyebarkan agama islam di pulau Jawa. Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang menggunakan beberapa alat, seperti wayang, batang pisang untuk menancapkan, kain putih dan lampu sorot.
Permainan wayang dilakukan selama semalam suntuk. Pertunjukan ini disertai dengan musik gamelan khas jawa dan juga penyanyi sinden. Cerita wayang itu sendiri berkisah mengenai pelajaran dalam kehidupan. Misalnya Mahabrata dan Ramayana yang telah dimodifikasi sesuai dengan kultur Jawa.
2. Senjata Tradisional
Senjata khas yang digunakan oleh orang Jawa berupa keris. Keris merupakan pusaka yang sangat penting yang juga dipercaya memiliki kesaktian. Keris dibuat oleh para Mpu yang ditempa serta diberi mantra-mantra. Salah satu keris yang melegenda ialah keris Mpu Gandring dalam cerita Ken Arok.
3. Seni Musik
Suku Jawa memiliki musik tradisional yang dihasilkan oleh gamelan. Gamelan digunakan oleh wali songo pada zaman dahulu untuk menyebarkan agama islam. Gamelan merupakan gabungan dari beberapa alat musik seperti kendang, gong, kenong, bonang, kempul, gambang, slenthem dan lain-lain.
4. Seni Tari
Tari tradisional Jawa amat beragam. Tari-tarian ini ada yang berupa gerakan lemah gemulai, dan ada juga yang memiliki gerakan yang tangkas. Biasanya tari-tarian Jawa tak terlepas dari unsur magis. Beberapa tarian Jawa itu seperti sintren, bedhaya, kuda lumping, reog dan lainnya. Tari-tarian ini biasa diiringi musik gamelan dan seruling.
5. Bahasa Dan Aksara
Masyarakat Jawa biasa menggunakan bahasa jawa dalam percakapan sehari-hari. Bahasa jawa sendiri mempunyai beberapa tingkatan tergantung dari dengan siapa percakapan itu berlangsung.
Tingkatan tersebut yaitu “ ngoko” yang merupakan bahasa sedikit kasar yang digunakan kepada seseorang yang tingkatannya berada dibawah, kemudian “krama madya” yaitu bahasa jawa yang digunakan kepada orang yang sederajat, dan “krama inggil” yaitu bahasa yang digunakan kepada orang yang lebih tua atau dihormati.
Aksara Jawa memiliki 20 buah huruf yaitu ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, pa, dha, ja,ya, nya, ma, ga, ba, tha, nga. Artinya adalah ada dua utusan yang setia saling bertarung sama-sama saktinya dan sama-sama matinya.
6. Falsafah Hidup
Falsafah yang dianut orang Jawa merupakan pedoman hidup bagi masyarakat. Beberapa diantaranya yaitu “urip iku urup” hidup itu harus bermanfaat, “mangan ora mangan sing penting kumpul” kebersamaan merupakan hal penting dan lain-lain.
7. Budaya Kejawen
Merupakan suatu budaya yang sangat melekat dalam masyarakat jawa. Ajaran ini merupakan gabungan dari adat istiadat, budaya, pandangan sosial dan filosofis orang Jawa. Ajaran kejawen hampir mirip seperti agama yang mengajarkan spiritualitas masyarakat Jawa kepada Penciptanya.
Sebagai sebuah suku yang besar, tentu saja Suku Jawa juga memiliki kebudayaan yang besar, digunakan turun-temurun, dan masih ditemukan hingga sekarang. Kira-kira kebudayaan apa saja itu? Berikut kami ulas 6 kebudayaan Jawa yang turuntemurun diwariskan hingga sekarang.
1 . Bahasa
Suku Jawa memiliki bahasa daerah yang disebut dengan Bahasa Jawa. Sebagian besar masyarakat Jawa pada umumnya lebih banyak menggunakan Bahasa Jawa ini daripada menggunakan bahasa nasional, Bahasa Indonesia, untuk berbicara. Bahasa Jawa memiliki aturan yang berbeda dalam hal intonasi dan kosakata dengan memandang siapa yang berbicara dan siapa lawan bicaranya. Hal ini biasa disebut dengan istilah unggah-ungguh.
Bahasa [imaga Source]Aturan ini memiliki pengaruh sosial yang kuat dalam budaya Jawa dan secara tidak langsung mampu membentuk kesadaran yang kuat akan status sosialnya di tengah masyarakat. Sebagai contoh, di manapun seseorang dari Suku Jawa berada, dia akan tetap hormat kepada yang lebih tua walaupun dia tidak mengenalnya. Unggah-ungguh semacam inilah yang pertama kali dibentuk Suku Jawa melalui keteladanan bahasa.
2. Kepercayaan
Dahulunya, masyarakat Suku Jawa sebagian besar memeluk agama Hindu, Budha, dan Kejawen sebagai pegangan. Berbeda dengan yang sekarang, sebagian besar masyarakat Jawa memeluk agama Islam dan sebagian kecil menganut agama Kristen dan Khatolik. Meskipun demikian, budaya masa lalu masyarakat Jawa tidak utuh ditinggalkan begitu saja karena kepercayaan Kejawen, yang merupakan kepercayaan yang dihasilkan dari budaya Jawa, tetap masih ada yang menjalankan.
Budaya kejawen [Image Source]Kepercayaan kejawen berisikan tentang seni, budaya, tradisi, ritual, sikap dan juga filosofi orang-orang Jawa. Biasanya kepercayaan ini begitu kuat dipegang oleh orang-orang yang sudah berusia tua dan umumnya generasi di bawahnya sudah tidak banyak lagi yang mengikutinya. Meski berbeda pandangan, hal ini ternyata tidak menimbulkan pergesekan antara yang tua maupun yang muda, bahkan kaum yang muda cenderung menghormati yang tua untuk masalah ini.
3. Filosofi
Orang Jawa juga dikenal lekat dengan filosofi kehidupan, terutama dengan apa yang diajarkan oleh Sunan Kalijogo. Dalam kegiatannya berdakwah, seringkali Sunan Kalijogo menggunakan pendekatan tradisi sehingga banyak orang Jawa yang mengikuti ajarannya. Misalkan saja, lagu Ilir-ilir dan Gundul-gundul Pacul merupakan karya beliau yang sampai saat ini masih diperdengarkan turun-temurun.
Dasa pitutur [Image Source]Sunan Kalijogo juga meninggalkan filosofi hidup yang termuat dalam Dasa Pitutur yang masih dijalankan sampai sekarang. Isinya di antaranya adalah urip iku urup, memayu hayuning bawana ambrasta dur hangkara, sura dira jaya jayaningrat lebur dening pangastuti, ngluruk tanpa bala menang tanpa ngasorake sekti tanpa aji-aji sugih tanpa bandha, dan sebagainya.
4. Kesenian
Dalam bidang seni budaya, masyarakat Suku Jawa bisa dibilang memiliki kekayaan seni yang beragam. Setidaknya seni tradisional ini dibagi menjadi 3 kelompok menurut akar budayanya, yakni Banyumasan (Ebeg), Jawa Tengah dan Jawa Timur (Ludruk dan Reog). Untuk seni musik, masyarakat Jawa memiliki Langgam Jawa yang merupakan adaptasi musik keoncong ke dalam musik tradisional Jawa, khususnya Gamelan.
Kesenian reog [Image Source]Selain itu, Suku Jawa memiliki ragam seni tari dari berbagai daerah, yakni Tari Bambangan Cakil dari Jawa Tengah, Tari Angguk dari Yogyakarta, Tari Ebeg dari Banyumas, Tari Gandrung dari Banyuwangi, Tari Kridhajati dari Jepara, Tari Kuda Lumping dari Jawa Tengah, Tari Reog dari Ponorogo, Tari Remo dari Jawa Timur, Tari Emprak dari Jawa Tengah, Tari Golek Menak dari Yogyakarta, dan Tari Sintren dari Jawa Tengah.
5. Kalender
Salah satu kekayaan budaya Jawa yang tidak dimiliki oleh suku lain adalah Kalender Jawa. Kalender ini merupakan penanggalan yang digunakan oleh Kesultanan Mataram. Ketika Islam mulai berkembang di tanah Jawa, Sultan Agung memutuskan untuk meninggalkan Kalender Saka dan menggantinya dengan Kalender Hijriah dengan penyesuaian budaya Jawa. Kalender Jawa dibuat dengan perpaduan antara budaya Islam, budaya Hindu-Budha, dan budaya Eropa.
Kalender Jawa [Image Source]Dalam kalender sistem Jawa, siklus harian yang dipakai ada dua macam, yakni siklus mingguan yang terdiri dari 7 hari seperti yang kita kenal sekarang (Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, Sabtu, dan Minggu) serta siklus minggu pancawara yang terdiri dari 5 hari pasaran (Manis, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon). Untuk hitungan bulan, Kalender Jawa juga memiliki 12 bulan, yakni Sura, Supar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadilawal, Jumadilakir, Rajab, Ruwah, Pasa, Sawal, Sela, dan Besar.
6. Hitungan Jawa
Masyarakat tradisional Jawa juga memiliki sistem perhitungan untuk membuat keputusan-keputusan penting. Sistem perhitungan ini biasa disebut dengan Neptu, meliputi angka perhitungan hari, hari pasaran, bulan, dan tahun Jawa. Setiap hari, hari pasar, bulan, dan tahun memiliki nilai yang berbeda-beda. Dari nilai perhitungan total itulah nantinya akan diketahui baik-buruknya keputusan yang akan diambil.
Hitungan Jawa dan Pasaran [image source]Perhitungan ini juga bisa didasarkan pada susunan Aksara Jawa (ha na ca ra ka, da ta sa wa la, pa dha ja ya nya, ma ga ba tha nga). Setiap aksara memiliki nilai yang berbeda-beda, misalkan ha, da, pa, ma masing-masing nilainya 1 dan huruf na, ta, dha, ga masing-masing nilainya 2, begitu juga seterusnya. Dari total perhitungan tersbut nantinya akan dicocokkan dengan 5 unsur, yakni Sri, Lungguh, Gedhong, Loro dan Pari. Unsur Sri, Lungguh dan Gedhong merupakan unsur positif, sedangkan Loro dan Pati adalah unsur negatif yang biasanya akan dihindari oleh orang Jawa.
Suku Jawa tidak dinisbatkan kepada seluruh penduduk pribumi penghuni pulau Jawa. Di pulau Jawa sendiri terdapat beberapa suku bangsa lain selain suku Jawa. Sebutan bagi suku Jawa lebih identik bagi masyarakat yang memegang teguh filosofis atau pandangan hidup Kejawen. Secara geografis meliputi Jawa Tengah, Jogjakarta dan Jawa Timur. Jawa Timur pun juga masih varian karena di dalamnya masih ada suku Madura, suku Tengger maupun Suku Osing di Banyuwangi. Kebudayaan suku Jawa merupakan hasil dari peninggalan sejarah kerajaan besar Jawa khususnya Majapahit dan Mataram Baru.
Filosofis hidup suku Jawa yang paling dasar sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu, Budha dan juga kepercayaan animisme-dinamisme. Orang jawa pada umumnya sangat menjunjung tinggi keseimbangan, keserasian dan keselarasan hidup baik terhadap sesama manusia maupun dengan lingkungan alam. Dalam etika keseharian sangat mengedepankan norma kesopanan, kesantunan dan kesederhanaan. Oleh sebab itu, dialog bahasa Jawa memiliki beberapa tingkatan bahasa sesuai dengan lawan bicara yang dihadapi. Untuk lebih jelasnya, inilah beberapa hal yang menunjukkan identitas kebudayaan suku Jawa :
1. Filosofis Hidup
Orang jawa pada dasarnya memiliki banyak sekali filsafat hidup yang dijadikan sebagai pedoman bermasyarakat. Namun terdapat tujuh filosofis dasar yang setidak-tidaknya menggambarkan perilaku budaya suku Jawa, yaitu :
- Urip iku urup, (hidup itu menyala), maknanya adalah bahwa hidup sebagai manusia haruslah memiliki manfaat bagi manusia lain dan lingkungan alam sekitar.
- Ojo Keminter Mengko Keblinger, Ojo Cidro Mundak Ciloko, (jangan menjadi orang yang sombong dengan kepandaian dan jangan menyakiti orang agar tidak dicelakai), maknanya hidup haruslah rendah hati dan selalu sportif.
- Ojo Ketungkul Marang Jenenge Kalenggahan, Kadunyan lan Kemareman, (jangan menjadi orang yang hanya mengejar jabatan, harta dan kenyamanan), maknanya jangan terlalu mengutamakan jabatan/pangkat, harta dan kenikmatan dunia.
- Wong Jowo Kuwi Gampang Ditekak-tekuk, (orang jawa itu mudah untuk diarahkan), maknanya bahwa orang Jawa itu mudah untuk beradaptasi dengan berbagai situasi lingkungan.
- Memayu Hayuning ing Bawana, Ambrasta dur Hangkara (membangun kebaikan dan mencegah kemungkaran), maknanya adalah hidup didunia harus banyak-banyak membangun atau memberi kebaikan dan memberantas sikap angkara murka.
- Mangan ora mangan sing penting kumpul (kebersamaan harus diutamakan), maknanya adalah bahwa kebersamaan dan gotong royong itu lebih penting dari yang selainnya.
Nrimo Ing Pandum, (menerima pemberian dari yang kuasa), maknanya adalah harus selalu bersyukur terhadap apa yang sudah dimiliki dan diberikan oleh Tuhan.
2. Ajaran Kejawen
Kejawen bagi masyarakat Jawa asli sudah hampir menjadi seperti agama tersendiri. Ajaran kejawen pada dasarnya merupakan kompilasi dari seni, budaya, adat ritual, sikap sosial, serta berbagai pandangan filosofi masyarakat Jawa. Bagi masyarakat Jawa yang masih memegang teguh ajaran asli kejawen, panutan ajaran ini menjadi nilai spiritualitas tersendiri. Masyarakat Jawa banyak memiliki kitab kejawen yang disadur dari kitab-kitab karya para Mpu pada masa kerajaan Jawa.
Syekh Siti Jenar yang terkenal dengan konsep gagasan ‘manunggaling kawula lan gusti’, merupakan salah satu tokoh yang tidak dapat dilepaskan dari munculnya ajaran kejawen. Sebagai inti ajaran, kejawen mengajarkan manusia pada apa yang disebut ‘Sangkan Paraning Dumadhi’ (kembali kepada sang pencipta). Kemudian membentuk dan mengarahkan manusia untuk sesuai dengan Tuhannya (manunggaling kawula lan gusti). Bahwa setiap manusia harus bertindak sesuai dengan tindakan dan sifat Tuhan. Untuk mencapai tujuan tersebut maka orang Jawa biasa melakukan’laku’atau tindakan untuk membentuk pribadi yang sesuai dengan Tuhan. Diantaranya adalah dengan melakukan ‘pasa’atau berpuasa dan juga ‘tapa’atau melakukan pertapaan. Disinilah letak kejawen sebagai bentuk spiritualitas suku Jawa.
3. Wayang Kulit
Wayang kulit merupakan salah satu kebudayaan suku Jawa yang cukup khas. Wayang sendiri berasal dari kata ‘ayang-ayang´ yang artinya adalah bayangan (baca juga : sejarah wayang kulit). Wayang kulit Jawa memiliki perbedaan dengan wayang golek Sunda (baca : sejarah wayang golek). Bagi suku Jawa, cerita pewayangan selalu menggambarkan bentuk kehidupan manusia di dunia, yakni peperangan terhadap angkara murka dan perjuangan untuk membangun kebaikan. Hal itu sesuai dengan prinsip filosofis hidup yang selalu dipegang teguh oleh orang Jawa.
Permainan kesenian wayang kulit mulai tersebar luas ketika para wali songo sering menggunakan wayang kulit sebagai media dakwah Islam. Pada umumnya cerita dan penokohan pada kesenian wayang kulit diambil dari kisah Mahabarata dan Ramayana. Namun dalam versi pewayangan Jawa, cerita tersebut sudah banyak dilakukan perubahan. Wayang purwa sebutan lain bagi wayang kulit biasa dimainkan oleh seorang narator yang disebut dalang. Dalang ini bertugas untuk mengatur jalannya cerita dan memainkan gerak para tokoh wayang kulit.
Selain memiliki unsur kesenian, wayang kulit juga dipercaya oleh orang Jawa memiliki nilai magis tersendiri. Pagelaran wayang kulit dipercaya mampu mendatangkan kekuatan-kekuatan magis dari arwah leluhur ataupun kekuatan magis yang berasal dari Tuhan. Maka dari itu pagelaran wayang kulit merupakan media utama ketika orang Jawa melakukan ruwatan. Ruwatan merupakan bentuk acara atau upacara untuk membuang ‘bala’ (kesulitan dan kesialan). Dengan diruwat orang Jawa berharap kehidupannya bisa keluar dari segala kesulitan dan bencana.
4. Keris
Keris merupakan senjata tradisional suku Jawa. Keris sendiri selain sebagai senjata tradisional suku Jawa juga menjadi lambang kedaulatan beberapa raja-raja di kerajaan luar Jawa. Bagi orang Jawa, keris tidaklah sesederhana hanya merupaka senjata saja. Lebih dari itu, keris merupakan senjata pusaka yang diyakini oleh sebagai orang memiliki atau menyimpan kesaktian. Oleh sebab itu keris disebut juga sebagai ‘tosan aji’ (alat yang memiliki kesaktian).
Dalam beberapa legenda sejarah terdapat beberapa keris yang dianggap begitu istimewa. Keris Mpu Gandring yang direbut oleh Ken Arok, mampu menjadikan Ken Arok sebagai penguasa kerajaan Singasari. Keris Nagasasra dan keris sabuk Inten yang terkenal dari kerajaan Demak. Keris Sunan Kudus yang disebut ‘sunan kober’ dan merupakan senjata pamungkas dari Arya Penangsang juga telah mampu memberikan kekuasaan.
Sebagai ‘tosan aji’, keris begitu sangat dipercayai kesaktiannya karena proses pembuatannya yang dilakukan oleh para Mpu (sebutan bagi pembuat keris) senantiasa diiringi dengan laku spiritualitas seperti puasa dan bertapa. Selain kemampuan meracik kualitas bahan material, para Mpu juga memasukkan berbagai mantra dan do’a pada keris yang dibuatnya. Bahkan jumlah ‘luk’ (lekukan) yang ada pada keris menyimpan makna kesaktian yang tersembunyi.
5. Aksara Jawa
Suku Jawa memiliki huruf tulisan yang disebut dengan aksara Jawa. Aksara Jawa terdiri dari 20 karakter huruf yang menyimpan makna dan filosofi masing-masing. Huruf-huruf tersebut adalah Ha Na Ca Ra Ka Da Ta Sa Wa La Pa Dha Ja Ya Nya Ma Ga Ba Tha Nga. Banyak sekali versi sejarah dan legenda yang mengemukakan asal-usul munculnya aksara Jawa ini. Namun yang paling terkenal diantara kalangan masyarakat Jawa adalah cerita babad Ajisaka.
Babad Ajisaka mengisahkan tentang pengembaraan seorang penguasa kerajaan Jawa Kuno yang didampingi oleh seorang abdi (pembantu). Dalam perjalanannya, Ajisaka meninggalkan keris miliknya di tengah hutan dan menyuruh abdinya tersebut untuk menjaga keris tersebut dan jangan sampai diberikan kepada siapapun kecuali pada Ajisaka sendiri. Ajisaka kemudian melanjutkan pengembaraannya seorang diri.
Setelah sekian waktu, Ajisaka kembali ke kerajaan dan setelah sekian lama memerintah kerajaan ia baru teringat akan keris pusakanya yang ia tinggalkan semasa pengembaraan. Dari situ lantas Ajisaka mengutus seorang utusan untuk pergi ke hutan mengambil keris tersebut. Ia berpesan pada utusannya bahwa jangan sampai kembali ke kerajaan sebelum ia membawa keris pusakanya.
Di tengah hutan utusan kerajaan ini mendapati keris pusaka Ajisaka yang tengah dijaga oleh seorang abdi. Kedua orang yang pada hakekatnya merupakan utusan Ajisaka ini kemudian saling berebut keris karena mereka sama-sama memegang teguh amanah perintah majikannya. Dua orang ini kemudian terlibat pertarungan yang menjadikan keduanya tewas. Ajisaka baru teringat kalau ia meninggalkan keris tersebut bersama dengan salah satu abdi setianya. Ajisaka menyusul ke dalam hutan, namun ia mendapati kedua utusannya telah tewas. Untuk menghormati utusannya yang setia inilah kemudian Ajisaka merumuskan tulisan yang kemudian dikenal sebagai aksara Jawa. Filosofisnya,
HaNaCaRaKa : terdapat dua utusan setia
DaTaSaWaLa : saling berkelahi/bertarung
PaDaJaYaNya : sama-sama saktinya
MaGaBaThaNga : sama-sama matinya.
6. Bahasa
Bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa yang memiliki stratifikasi atau tingkatan bahasa. Orang Jawa sangat menjunjung tinggi etika kesopanan dan kesantunan termasuk dalam hal berbahasa. Dalam bahasa Jawa dikenal yang namanya undhak-undhuk atau tata krama di dalam bertutur kata. Setidaknya terdapat tiga struktur tingkatan bahasa yang ada dalam bahasa Jawa, tingkatan tersebut :
Ngoko, bahasa ngoko merupakan bahasa yang digunakan apabila lawan bicara merupakan orang yang sebaya umurnya atau kerabat yang sudah dekat dan akrab. Secara khusus juga digunakan oleh orang yang lebih tua kepada orang yang lebih muda.
Madya, bahasa madya merupakan bahasa yang digunakan kepada lawan bicara yang umurnya lebih tua atau sekadar penghormatan kepada orang yang sama sekali kurang dikenal.
Krama, bahasa krama merupakan tingkatan tertinggi dalam bahasa Jawa. Digunakan untuk berbicara kepada orang yang yang lebih tua atau dituakan, serta kepada orang yang memiliki status sosial tinggi di masyarakat.
Bahasa Jawa sendiri masih terbagi kedalam beberapa dialek yang berbeda-beda. Seperti dialek orang Jawa di Jawa Timur dengan orang Jawa di Jawa Tengah atau Jawa Barat, memiliki struktur pengucapan dan logat yang berbeda. Namun prinsip undhak undhuk masih tetap berlaku meskipun dialek dan pengucapan memiliki perbedaan.
7. Seni Tarian
Orang Jawa dikenal sebagai masyarakat yang berbudaya. Sangat banyak sekali seni tari yang merupakan hasil olah cipta, rasa dan karsa masyarakat Jawa. Bahkan antara orang Jawa di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, memiliki tarian khasnya masing-masing. Benang merah seni tari suku Jawa terletak pada tata tari yang luwes, kalem dan santun. Menggambarkan filosofis hidup suku Jawa yang cenderung menerima, selalu adaptif dengan segala situas dan kondisi serta mengutamakan tata krama.
Sebagaimana kepercayaan yang dianut suku Jawa, dalam kesenian tari yang diciptakan pun tidak terlepas dari unsur magis dan sakralitas. Kesenian tari seperti reog, tari sintren, tari kuda lumping (baca juga : sejarah kuda lumping), merupakan contoh kesenian tari yang sangat kental dengan kekuatan supranatural. Di lingkungan keraton Jogjakarta dikenal tari ‘bedhaya ketawang’ yang sangat disakralkan oleh orang Jawa disana. Sakralitas ini berkaitan dengan kepercayaan bahwa tari bedhaya ketawang ini sengaja diciptakan oleh Nyi Roro Kidul penguasa laut selatan sebagai bentuk suguhan bagi penguasa Kerajaan keraton Jogja penguasa tanah Jawa.
Tarian ini ditarikan oleh 9 orang wanita dan hanya dipentaskan untuk acara-acara tertentu saja yang berkaitan dengan hajat keraton/kerajaan. Pagelaran tari bedhaya ketawang diiringi oleh musik gamelan yang ritmenya sangat halus dan pelan. Gerakan tarinya pun juga sangat halus, sehingga membuat orang yang melihatnya seolah-olah tersihir dengan gerak dan alunan musiknya (baca : elemen gerak tari). Dipercaya bahwa ketika dilakukan pagelaran tari ini, secara supranatural Nyi Roro Kidul selalu hadir dan ikut menari bersama dengan 9 wanita yang menarikan tarian ini.
8. Seni Musik
Alat musik tradisional Jawa biasa disebut dengan gamelan. Gamelan sendiri merupakan gabungan dari beberapa alat musik pukul seperti gong, kendang, saron, bonang, kenong, demung, slenthem, gambang serta kempul. Gamelan biasa digunakan untuk mengiringi kesenian tari atau kesenian suara yang biasa disebut dengan karawitan. Gamelan juga biasa digunakan sebagai pengiring pagelaran wayang kulit.
Pada zaman dahulu alat musik gamelan biasa dijadikan media dakwah para walisongo. Mereka menggunakan gamelan sebagai alat untuk memberi hiburan kepada masyarakat sebelum atau sesudah mereka memberikan ceramah-ceramah agama. Dengan media ini masyarakat Jawa mudah untuk dikenalkan dengan Islam dan sekarang mayoritas Suku Jawa merupakan orang-orang yang memeluk Islam. Selain di Jawa alat musik gamelan juga dikenal pada beberapa suku bangsa yang lain seperti pada kebudayaan Sunda, bahkan kebudayaan Suku Banjar yang ada di luar Jawa juga menggunakan gamelan sebagai salah satu alat musiknya.
Itulah Suku Jawa dengan segala ceritanya yang nggak bosan-bosan untuk di ulas. Berapa kalipun mengulasnya, maka tidak akan ada kata bosan. Suku Jawa itu unik, dan pastinya menjadi suku bangsa yang paling populer di Indonesia.
Budaya larangan adalah budaya yang paling menarik dari budaya Suku Jawa ini. Di mana budaya tersebut ada kaitannya dengan dunia mistis. Kepercayaan yang terlalu kuat inilah yang membuat generasi milenial di Jawa masih melestarikannya.
Mungkin banyak yg tidak tau mengapa koruptor di lambangkan tikus? Kalo diperhatikan di media kenapa koruptor dilambangkan dengan tikus kenapa tidak tomket saja,komodo,atau kucing kan lebih asik di lihat? Hmm, mungkin karena mereka memiliki beberapa kesamaan, antara lain sama-sama: 1. Suka Nyolong Koruptor dan tikus dua-duanya memiliki kesamaan suka nyolong. Bedanya kalo tikus nyolong makanan kamu, sementara kalo koruptor nyolong duit kamu (yang harusnya bisa buat beli makanan juga).Tapi mungkin perbedaan mendasarnya adalah apa yang mendasari mereka nyolong. Tikus nyolong karena memang mereka harus bertahan hidup, sementara koruptor nyolong karenaâ?¦karena apa ya? Karena hobi mugkin. Hanya dia dan tuhan saja yang tau alasannya 2. Susah Ditangkep Tikus dan koruptor sama-sama susah ditangkap. Mereka sangat gesit dalam hal kabur dan pinter banget sembunyi. Bedanya kalo tikus sembunyi di belakang lemari atau di gor...
Di beberapa SMP/SMA baru saja selesai dilaksanakan MOS/Mabis/apapun namanya. Tingkat Universitas pun akan melaksanakannya pada bulan Agustus-September besok. Diantara Anda mungkin masih sering berpikir, kenapa model MOS/ospek seperti itu masih dipertahankan? Dan kebanyakan seniornya hanya mengakatan ini sudah tradisi dan agar Anda punya kenangan di hari tua nanti. Jika Anda masih berpikir model MOS/Ospek ini tidak manusiawi dan tidak mencetak pemimpin, tolong baca ini. Saya punya jawaban filosofisnya. Semoga membuka pandangan baru. Mengapa kami harus datang pagi-pagi? + Karena kami ingin Anda terbiasa menang sebelum berperang. Jika Anda calon pemimpin, tepat waktu adalah terlambat! Kebiasaan bangun pagi tidak bisa diajarkan secara teori, Anda harus mempraktekannya, minimal 3 hari ini. Mengapa kami harus membawa barang2 yang tidak masuk akal dan ribet semacam pete, dot, ikat pinggang lonceng, kaos kaki sebelah, dan digundul? Kenapa harus tas...
Meski perwakilan Macaulay Culkin telah membantah artisnya menjadi pecandu narkoba, berita tentang aktor tersebut sebagai pemakai narkoba kelas berat tidak mereda. Justru sebaliknya, banyak yang penasaran dan mengulik kembali kisah hidup mantan artis cilik ini. Culkin adalah aktor cilik yang sukses berkat perannya sebagai Kevin McCalister dalam film "Home Alone". Film itu berhasil menyedot perhatian dunia. Nama Culkin pun terus menanjak. Bahkan, di usianya yang masih kecil, ia telah menjadi seorang jutawan. Hidupnya bergelimang kemewahan. Seperti dikutip dari Daily Mail, di usianya yang baru 12 tahun, Culkin telah memiliki kehidupan nyaman, tinggal di apartemen mewah seharga 2 juta poundsterling atau sekitar Rp29,4 miliar. Dia menjadi seorang miliarder cilik. Ia mendapat bayaran pertama kalinya sebesar 70 ribu poundsterling atau sekitar Rp1 miliar. Kemudian honornya meningkat drastis menjadi 3 jut...
Komentar
Posting Komentar